PALSU, TULUS, DAN BAHAGIA


Pagi ini, ketika pertama kali kubuka mata sehabis terlelap dalam tidur malam. Aku terdiam sejenak. Aku berusaha mengembalikan kesadaraanku. Aku harus sadar dimana aku, dan siapa aku. Kurasakan sudut bibirku tertarik keatas mengukir seutas senyuman. Aku tersenyum karena ternyata aku sudah mengetahui dimana diriku ini berada dan siapa aku sebenarnya. Aku di dunia nyata dan aku bukanlah siapa-siapa. Kesadaran itu membuat hatiku merasa lega. Kesadaran bahwa aku bukanlah siapa-siapa membuat hatiku benar-benar merasa lega! Aku tidak perlu lagi takut menghadapi dunia ini, karena aku bukanlah siapa-siapa. Aku tak perlu lagi mengenakan topeng yang terlalu indah lagi untuk bisa melihat dunia ini, karena aku bukanlah siapa-siapa. Aku tak perlu risau lagi kepunyaanku akan direbut oleh orang lain, karena aku bukanlah siapa-siapa yang tak punya apa-apa. Rasa lega tanpa beban bahwa aku bukanlah siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa sungguh membuatku bahagia. Bahagia! Kebahagiaan yang tulus.

Lalu aku bertanya kepada hatiku sendiri, “Kemana sajakah diriku selama ini hingga aku tak pernah merasakan ‘sadar’?” Aku hanya bisa tertunduk dan malu. Selama hidupku aku selalu terbuai dengan hal-hal duniawi yang terlalu tak perlu. Aku tak pernah benar-benar melihat dimana kakiku menapak. Aku hanya selalu sekedar menengok kaki-kakiku untuk kemudian aku tutupi agar aku seolah tak tahu dimana kakiku berpijak. Aku pura-pura tak tahu! Dan ketika itu aku merasa bahagia semu! Dan parahnya ragaku menikmati semua kepalsuan itu!

Jadi, sepanjang usiaku ini hanya kepalsuan saja yang selalu menyelimutiku. Aku terguncang! Aku seperti dihenyakkan ke belakang secara tiba-tiba, dan aku terhengkang. Segala lapisan kepalsuan itu bagai guci keramik indah nan mahal yang hancur berkeping-keping ketika menyentuh lantai, karena terhempas dari atas meja marmer yang kokoh. Ada yang telah melemparkanku dari atas meja marmer itu, hingga aku harus terjatuh ke lantai yang hanya berupa tanah ini. Tetapi kemudian, aku tidak merasakan rasa sakit sedikitpun ketika terjatuh. Kepalsuan itu memang telah hancur, tetapi ragaku tidak! Aku justru merasakan kelembutan tanah yang sederhana ini. Hanya warna coklat tanpa corak, sederhana dan bersahaja. Dan seketika aku mulai sadar inilah duniaku sebenarnya. Disinilah seharusnya aku berada sejak dulu. Dan lagi-lagi sudut bibirku tertarik mengukir sebuah senyuman. Aku tak pernah menyesal karena terlambat menemukan duniaku. Aku justru harus berterima kasih karena telah diberi kesempatan untuk mencicipi dunia kepalsuan hingga aku benar-benar bisa merasakan tentang ketulusan yang sesungguhnya. Dan aku menyebutnya perjalanan hidup!

Diposting oleh : Dindaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: