KEPINGAN PUZZLE DI ST. EMILION


Aku melangkah keluar dari Moulin de la Grangere, salah satu penginapan yang terletak di tengah-tengah perkebunan wine. Aku berdiri sejenak untuk menghirup udara kota St. Emilion ini. Aku menarik nafas panjang-panjang dan kunikmati hirupan udara yang memasuki lubang hidungku, dan terus menuju ke dalam paru-paruku. Kubiarkan rinduku mengalir bersama udara St. Emilion ini. Rindu yang selama sepuluh tahun ini kupendam sendiri di relung hatiku. Sepuluh tahun yang begitu sulit kulalui tanpamu. Di sini, di St. Emilion ini, di kota kecil yang begitu mempesona ini, kau pernah membawaku, juga hatiku. Tetapi, di sini pula kau buat hatiku merana dengan kepergiaanmu.

Kini, aku telah di sini lagi, di St. Emilion, kota kenangan cinta kita. Aku kembali untuk mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle kisah kita yang berserakan di semua sudut St. Emilion ini. Aku ingin merasakan lagi rasanya menyusuri jalan-jalan kecil yang sebagian masih berbatu-batu. Kau ingat, kita pernah menyusuri jalanan itu. Kita tersaruk-saruk berdua di malam musim dingin. Kau berjalan sambil memeluk tubuhku erat, aku hangat dalam pelukanmu. Ketika itu masih dalam suasana Natal dan Tahun Baru sehingga jalanan di kota ini begitu sepi. Tak banyak lampu yang terpasang di jalan dan hanya beberapa hiasan lampu Natal yang menyala. Kau tahu, kota ini begitu sederhana, sesederhana cintaku padamu, juga rinduku.

Kulihat langit di atas sana, tampak awan mendung bergelayut manja. Tetapi tak menghalangi niatku untuk berjalan menapaki kembali jalan cinta kita. Aku merasakan hujan rintik-rintik mulai turun. Dan aku hanya tersenyum seolah itu dirimu yang menyentuh lembut pipiku, mengusap manja rambutku, dan menggenggam erat jemariku. Aku tak pernah melupakan St. Emilion, sama seperti aku tak pernah melupakanmu.

Wangi roti panggang dan croissant tercium dimana-mana, menandakan aku benar-benar berada di Perancis. Aku ingat, kita pernah sarapan dengan croissant yang begitu alot. Tetapi kita tetap menikmatinya seolah itu adalah muffin coklat kegemaran kita. Aku tersenyum mengingat kenangan itu, dan kusimpan kembali kepingan puzzle cinta kita yang baru saja kutemukan ke dalam bilik hatiku.

St. Emilion tak pernah berubah hingga kini, sama seperti hatiku, tak pernah berubah untukmu. Sepanjang mata memandang hanya perkebunan anggur yang berbaris rapi yang terlihat. Di hadapanku terhampar perbukitan yang mengelilingi rumah-rumah penduduk yang begitu sederhana.

Langkahku terhenti sejenak. Aku tiba di sebuah Chateau. Aku menatap lekat-lekat kastil tempat pembuatan dan penyimpanan wine di hadapanku ini. Di tempat ini kau pernah mengajakku untuk mencoba mencicipi rasa wine. Saat itu aku hanya tersenyum malu-malu. Seumur hidupku, aku belum pernah tahu rasanya wine, apalagi cara menikmatinya. Tetapi kau meyakinkanku untuk mau mencobanya. Aku juga masih ingat nama wine yang aku cicipi ketika itu, jenis St. Emilion Grand Cru Classe. Kau menuangkan wine untukku ke dalam gelas bertangkai dengan perlahan. Kau bilang aku harus menghirup aroma yang terperangkap di dalam gelas. Dari aroma yang tercium, kau akan tahu rasa wine yang akan kau sesap nantinya, begitu katamu. Dan kau mempersilakan aku untuk meminum wine itu. Aku hanya sedikit menyentuhkan cairan wine itu di bibirku, tetapi hal itu sudah membuatku mengernyitkan dahi. Dan kau hanya tertawa. Oh, God! Tawa itu yang selalu kurindukan!

Aku melangkah lagi meninggalkan Chateau dan kembali menyimpan kepingan puzzle yang kutemukan di depan Chateau kenangan itu. Aku memandangi lagi hamparan pohon-pohon anggur di hadapanku. Di musim panas pastilah semuanya akan jauh lebih indah. Terbayang dalam ingatanku ketika aku melewati musim panas lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Pohon- pohon anggur yang berbaris itu berwarna hijau dengan anggur-anggur lebat berbagai warna, merah, hijau, ungu, dan hitam menghiasi. Dan ketika musim gugur tiba, semuanya akan  menjadi merah kecoklatan dan ungu. Benar-benar pemandangan yang luar biasa. Dan semua itu masih kuingat dengan rapi di dalam otakku.

Musim dingin merupakan saatnya penduduk St.Emilion sedikit beristirahat, setelah musim gugur, mereka membersihkan daun-daun yang gugur dan menata pohon anggur untuk musim selanjutnya. Seketika aku terkenang saat kita berlarian diantara dedaunan coklat yang bertebaran serta berterbangan karena kaki-kaki kita menyaruknya. Berlarian di bawah guguran dedaunan membuat romansa cinta kami tetap terukir di setiap pohon yang dahulu pernah kita lalui. Dan aku menemukan lagi sebuah kepingan puzzle cinta kita.

Aku tercekat di depan sebuah gereja tua yang menjadi ciri khas kota St. Emilion ini. Tanpa kusadari butiran bening sudah meleleh di pipiku. Aku selalu tidak dapat menahan air mataku jika aku melihat gereja tua ini, bahkan walau hanya berupa foto saja. Di gereja ini kau berniat akan memberitahuku tentang kepergianmu. Dan seharusnya kau memberitahuku! Tapi kau tak pernah mengatakannya padaku. Kau tak sampai hati mengatakan padaku bahwa kau harus pergi meninggalkan aku, di saat kita baru saja memulai kisah romansa indah kita. Kau benar-benar tak pernah mengatakan kau akan pergi sampai aku melihatmu pergi dengan mata sembabku. Kau hanya berkata, “Tunggu aku. Aku tak ‘kan lama.” Tetapi kau tak pernah kembali. Kau tahu, berapa lama aku menantimu dalam sepi? Kau tahu, berapa banyak air mata yang mengalir keluar dari mataku untuk menahan rinduku? Kau tahu, waktuku tak banyak untuk berada di sini. Akupun harus segera kembali ke tanah airku sendiri. Dan kau tahu, hingga saat terakhir aku berada di sini, aku tak pernah tau di mana dirimu berada. Dan apakah kau tahu rasanya harus merasa patah hati ketika cinta mulai bersemi di hati? Apakah kau juga merasakan penderitaan yang aku rasakan? Dan sekeping puzzle retak kutemukan di sini.

Aku mengusap sisa-sisa air mata di pipiku dan baru menyadari kalau ada banyak salju menumpuk di sana- sini. Dan ini untuk pertama kalinya salju turun di St. Emilion. Aku juga melihat sebuah mobil penabur garam tengah bekerja untuk mengurangi tumpukan salju di jalan besar. Tak dapat disangkal, salju yang putih bagaikan gula menaburi kota kecil yang diterangi lampu hangat disetiap jendela membuat kota ini terlihat begitu indah dan damai.

Aku mulai bertanya di dalam hati, akankah kedatanganku kini akan membawaku padamu? Akankah aku bertemu dengan dirimu? Kini aku berjalan ke tujuan terakhirku, dan hanya ini pula harapan terakhirku, setelah hari ini berlalu, aku tak ‘kan pernah lagi menginjakkan kakiku di St. Emilion lagi.

Di kejauhan aku sudah melihat sebuah benteng besar yang dibuat sekitar tahun 1600-an. Di sampingnya mengalir sebuah sungai besar. Di sungai itulah aku pernah membuat janji. Kakiku mulai terasa lelah, langkahku melambat dan aku tertatih. Tetapi aku harus sampai ke tepi sungai itu untuk menepati janjiku dulu.

Kemilau airmu tetap mempesona, gumamku dalam hati. Aku berjalan perlahan memperhatikan setiap detail di sekitar sungai dengan seksama. Aku mencari sesuatu. Dan lututku gemetar melihat sesosok tubuh telah berdiri di tepi sungai itu, menatapku. Rasa yang ada di dalam dadaku terasa telah bercampur aduk tidak karuan. Aku menggeleng-gelengkan kepala serasa tak percaya dengan apa yang kulihat di hadapanku. Aku melihatnya! Aku menemukannya! Dia di sana!

Ia memandangku dengan mata penuh penderitaan. Aku tersayat dengan pertemuan kami.Kami merana! Ia merengkuhku kuat-kuat seakan tak ‘kan pernah dilepaskannya lagi. Sekujur tubuhku merasakan sakit. Dan hatiku terasa lebih sakit dari tubuhku. Tangisku pecah seketika saat Ia mencium bibirku. Ini terakhir dan ini berakhir. Kita berakhir di sini.

Janjiku di tepi sungai ini di saat-saat terakhir aku akan kembali ke tanah air : “Aku akan datang ke sini di saat aku telah mengikat diri dengan orang lain selain dirimu. Aku harus melihat tanah dan sungai tempat kau dan aku bersama untuk yang terakhir kali, hanya untuk mengenangmu. Dan aku tak ‘kan pernah datang lagi.

Foto  : Wikipedia

Diposting oleh : Dindaru


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: