Merangkai mimpi di Atambua


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.55. Tersisa lima menit lagi sudah pukul satu dinihari. Pertanda sudah hampir sejam lamanya hari berganti. Jumat menjadi Sabtu, tanggal sebelas menjadi dua belas April. Hari ulang tahunku. Dan aku masih terjaga di depan layar laptop ditemani lagu-lagu dari Winamp dan secangkir teh panas yang uapnya masih mengepul. Aku masih menyelesaikan sebuah laporan kerja hari ini.Tak ada surprise meriah dari teman-teman dan keluarga. Tak ada pula pesta-pesta ala anak muda kota. Yang ada hanya kesunyian di tengah malam dan entah kenapa aku juga belum dapat memejamkan mata. Ada gelisah di ujung hatiku. Ada ganjalan menggunduk menyesakkan dadaku.

Ini ulang tahunku yang ke-27. Yang artinya tiga tahun lagi umurku sudah 30 tahun. Umur yang sangat ditakuti sekian banyak wanita lajang yang masih jauh dari rencana menikah. Menikah? Rasanya sulit membayangkan rencana itu ketika aku dengan segenap jiwaku masih berada di sini. Sudah hampir  setahun ini aku bergabung dengan anak-anak muda relawan di Timor Barat yang peduli dan mengurusi masalah pengungsi dari Timor Leste akibat konflik pasca jajak pendapat di Timor Timur tahun 1999 lalu.

Ini bukan hanya sekedar rasa empati kepada sesama tetapi lebih kepada rasa cinta dan panggilan hidup kepada saudara sebangsa. Dengan segenap kemampuan yang aku miliki, baik itu materi, pengetahuan, maupun tenaga yang tidak seberapa ini, aku nekat untuk bergabung. Aku nekat meninggalkan pekerjaanku yang mapan sebagai seorang produser di sebuah stasiun televisi swasta nasional di Jakarta. Aku nekat merelakan usaha butik yang kurintis dari nol semenjak awal kuliah kepada mama. Dan parahnya aku meninggalkan seorang Billy Donovan, kekasih hati yang telah menemaniku selama empat tahun ini. Membiarkannya repot mondar-mandir antara Jakarta-Kupang-Atambua di sela-sela kesibukannya sebagai Auditor di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Naif, hanya satu kata itu yang mungkin menggambarkan diriku waktu itu.

Bunyi kokok ayam jantan terdengar samar di selingi lolongan anjing di kejauhan. Setelah itu sunyi. Hanya dengkuran-dengkuran halus teman-teman lirih terdengar. Dalam kesunyian ini aku teringat kembali awal mula keberadaanku di sini, di posko relawan sederhana ini, di Atambua nan ramah ini. Tempat yang membuatku jatuh cinta dan enggan untuk kembali ke hiruk-pikuknya kota metropolitan, Jakarta. Tempat di mana aku benar-benar merasakan hidup yang sesungguhnya. Aku ingat ketika sahabatku saat kuliah, Sophie Yolanda datang ke kantor tempatku bekerja. Ia datang membawa proposal untuk meminta kerelaanku menyumbang untuk sebuah organisasi sosial yang peduli pada para pengungsi eks Timor-timur yang ia dan banyak teman muda kelola. Ia tidak hanya datang dengan proposal di tangan tetapi juga foto-foto dan kisah yang memperlihatkan dengan jelas betapa memprihatinkannya keadaan para pengungsi di tempat pengungsian dan kehidupan mereka. Saat itu aku tidak hanya menyatakan bersedia menyumbang materi tetapi aku juga mengatakan akan bergabung dengannya. Dan masih jelas dalam ingatanku, bagaimana Sophie Yolanda hanya mampu melongo, terkejut mendengar keinginanku.

Ponsel di sebelahku bergetar, tanda sebuah sms masuk. Aku menyeruput teh di dalam cangkir yang mulai dingin sebelum meraih ponsel untuk membaca sms yang baru saja masuk.

Happy Birthday, honey. Sorry, aku baru sampai rumah. Lembur.

Aku tersenyum kecut membaca sms singkat dari kekasihku, Billy Donovan. Ada kehampaan mulai menyelimuti hubunganku dengan Billy. Mulai ada jarak, bukan hanya jarak sesungguhnya yang memang memisahkan kami tetapi juga perasaan yang kurasakan. Aku mulai enggan ketika Billy mulai membicarakan tentang pernikahan. Aku sama sekali belum berminat atau bahkan tidak berminat sama sekali untuk membahas tentang masalah itu. Dan hal itu yang selalu memicu konflik antara aku dan Billy baik di telpon, sms, bahkan YM. Jika sudah begitu ia akan begitu ngotot untuk datang ke Atambua ini untuk menemuiku. Ia nekat mencuri-curi waktu untuk bisa datang jauh-jauh dari jakarta ke daerah perbatasan antara RI dengan Timor Leste ini. Ia ingin melihat sendiri ekspresi wajahku ketika aku mengatakan belum ingin menikah dalam waktu dekat.

“Kenapa?” Billy menatapku tajam. Bola matanya seakan-akan ingin melesat langsung menuju jantungku. Membuat jantungku berdegup lebih kencang dari normal.

“Aku..aku..belum siap.” Jawabku gugup.

Ah, jawaban klise para wanita untuk menghindari pernikahan. Namun, itu sungguh-sungguh dari dalam hatiku. Aku sungguh-sungguh ketika aku mengatakan aku belum siap untuk menikah. Aku bahkan takut mendengar kata komitmen seumur hidup itu. Takut jika komitmen itu harus memusnahkan perananku yang belum seberapa ini, di sini. Masih banyak rencana dalam kepalaku yang belum terwujud di sini. Teman-teman masih sangat membutuhkan aku. Aku pun masih sangat-sangat ingin di sini, di Atambua tercinta ini.

Billy Donovan mendekatiku. Kini ia hanya beberapa senti di hadapanku. Harum nafasnya pun dapat kuhirup lekat-lekat. Kedua tangannya menyentuh kedua pundakku dengan lembut. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya yang tinggi menjulang itu agar wajahnya menjadi sejajar dengan wajahku. Aku menatap matanya dan aku melihat banyak pertanyaan bersemburat di kedua bola matanya yang bening tapi terlihat lelah itu.

“Aku ingin segera menikah denganmu.” Billy berbisik di wajahku. Semburan nafasnya membuat bulu-bulu halus di keningku terbang sejenak dan kembali lagi seperti semula. Aku bergetar mendengar bisikannya. Ada rasa bersalah menyelimutiku. Rasa bersalah karena aku tidak memiliki keinginan yang sama seperti dirinya.

“Masih banyak tugas yang harus kulakukan disini.” Nada suaraku terdengar seperti tercekik. Antara bisikan dan desahan pelan. Entah Billy mendengar atau tidak. Namun, melihat reaksinya yang segera melepaskan kedua tangannya dari pundakku sudah memberiku jawaban. Ia tampak menghela nafas. Kini ia menatapku dengan bola mata yang berkilat-kilat.

“Tidak bisakah kau hentikan segala kegilaan ini? Apakah setahun kau di sini tak cukup untuk main-main dengan impian gilamu itu?” Nada suara Billy mulai meninggi dan rentetan kata-kata yang meluncur dari bibirnya yang berwarna merah itu membuatku terkejut luar biasa. Aku tidak menyangka jika ia menganggap keberadaanku di sini hanyalah sebuah permainan gila belaka. Aku benar-benar kecewa akan pandangannya yang dangkal itu.

“Impian gila?” Suaraku bergetar menahan tangis.

“Ya. Apalagi kalau bukan impian gila. Kau meninggalkan pekerjaanmu, meninggalkan rumah dan orang tuamu, meninggalkan segala yang kau punya di Jakarta. Dan kau meninggalkan aku. Aku sudah berusaha bersabar selama setahun ini untuk mengikuti segala keinginanmu yang serba tidak jelas itu di sini. Aku pikir waktu setahun sudah cukup bagimu untuk melihat kehidupan lain di sini. Aku mau kamu kembali bersamaku. Tinggalkan semua ini. Sudahi saja hal-hal tidak berguna ini. Apa sih yang kamu dapat dari semua ini?” Billy meluncurkan kata-kata tanpa henti. Ia menumpahkan segala perasaan kesalnya.

Akhirnya aku menangis. Air mata yang bertumpuk di pelupuk mataku sudah tidak dapat aku tahan lagi. Butiran-butiran bening itu meleleh membasahi pipiku. Pandanganku menjadi kabur tertutup tumpukan air mata yang berebutan ingin segera keluar dari mataku. Aku tidak ingin menjelaskan apapun pada Billy. Bagiku segala kata-kata yang meluncur deras dari mulutnya sudah menjelaskan bagaimana berbedanya pandangan kami. Itu sudah cukup. Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku sebagai jawaban.

Aku meletakkan kembali ponsel berwarna hijau toska itu di sebelahku. Aku merebahkan tubuhku sejenak untuk merenggangkan otot-otot yang mulai menegang. Menghirup nafas panjang dan melepaskannya perlahan. Alunan suara Gita Gutawa berduet dengan Derby Romero mendendangkan lagu berjudul ‘cinta takkan salah’ terdengar lirih dari Winamp laptopku.

Perbedaan jadi tidak berarti.

Karena hati telah memilih.

Di mataku kita berdua satu.

Apapun yang mengganggu.

Cinta takkan salah.

Benarkah cinta takkan salah? Benarkah perbedaan sama sekali tak berarti?

Banyak pertanyaan berkecamuk di dalam benakku. Banyak pula keraguan yang mulai timbul dengan hubunganku bersama Billy. Akankah semuanya ini dapat diteruskan? Aku merasa Billy tidak mengerti dengan semua yang kulakukan disini dan aku pun tak akan banyak menjelaskan. Billy, juga mama dan papa di Jakarta takkan pernah mengerti. Aku menamakan kegiatan dan aktifitasku di sini sebagai ‘panggilan jiwa’. Dan semua orang yang tak memiliki ‘panggilan jiwa’ untuk peduli berbuat sesuatu untuk orang-orang yang sangat membutuhkan takkan pernah mengerti kenapa aku lebih memilih untuk berada di sini daripada segala kemewahan yang kupunya ketika di Jakarta.

Seharusnya Billy melihat bagaimana orang-orang Belu begitu ramahnya kepada kami para relawan yang notabene adalah pendatang di daerah mereka. Mereka, orang-orang Belu ini menyambut kami bagai keluarga mereka sendiri. Mereka tidak memiliki kekayaan apapun untuk dibagi kepada kami, tetapi mereka memiliki kasih untuk berbagi, bahkan berbagi untuk kami yang mungkin lebih mampu daripada mereka. Seharusnya Billy melihat anak-anak kecil yang berada di pengungsian ini. Mereka selalu berlari-lari menyambut kami dengan kulit hitam mereka yang terpanggang matahari, dengan rambut ikal mereka yang memerah, serta kaki-kaki mungil yang telanjang tersaput debu.

Billy juga harus melihat bagaimana gersangnya tanah di Timor ini. Tak banyak pohon yang bisa tumbuh di sini. Pohon-pohon pisang, jagung dan singkong tampak kerdil bila dibandingkan dengan pohon pisang, jagung dan singkong di tanah Jawa. Rerumputan meranggas, kuning dan kecoklatan, seolah-olah musim kemarau terlalu lama mendera. Tahukah kau Billy, bahwa mereka hanya mampu panen setahun sekali. Mereka kesulitan mencari air di sini. Dan apakah Billy tahu pohon apa yang paling subur tumbuh di sini? Aku yakin tidak. Dan jawabannya adalah pohon Eucalyptus. Ya, pohon Eucalyptus di sini tumbuh menjulang bagai raksasa hingga menggapai langit Timor. Langit biru Timor yang selalu membuat mataku silau karena cerahnya. Dan aku yakin usia pohon-pohon Eucalyptus itu sudah ratusan tahun. Eucalyptus adalah bukti vegetasi di tanah yang kering dan tak subur. Ketika pertama kali tiba di sini aku jadi teringat foto-foto yang menggambarkan tanah di Afrika, polos, coklat dan gersang.

Billy oh Billy, seharusnya kau melihat keadaan rumah-rumah mereka. Maka kau akan menyesal mengatakan bahwa aku di sini hanyalah kegilaan belaka. Kau tahu dari bahan apa rumah mereka berdiri? Hanya dari pelepah lontar yang berdiri berjejer di lereng bukit yang tandus. Tanah tandus yang hanya bisa ditanami singkong dan jagung yang kurus. Sumur-sumur yang dibangun oleh beberapa lembaga swadaya masyarakat telah mengering tak berair setetes pun. Satu-satunya sumber air yang terus mengalirkan air adalah sebatang pipa PVC kecil yang terhubung dengan sebuah sumur di perumahan TNI.

Dan kau tahu, Billy. Anak-anak mereka harus bersekolah di sebuah sekolah dasar nun jauh di puncak bukit. Sekolah yang berdinding batang lontar, hanya terdiri dari tiga kelas berlantai tanah. Dengan terpal yang di gelar di halaman sekolah yang berdebu sebagi tambahan kelas. Sekolah itu tidak memiliki sumur dan toilet, apalagi perpustakaan atau bahkan UKS. Jika para siswa ingin ke belakang, mereka harus turun ke desa, berjalan menuruni bukit, 40 menit perjalanan jauhnya. Dan bila kebutuhan mendesak itu terjadi, biasanya mereka takkan kembali lagi ke sekolah karena jauhnya. Dan lebih parah ketika musim hujan tiba, jalan yang mereka lalui berubah menjadi lautan lumpur.

Jika memang hidup adalah pilihan, apakah itu hidup yang mereka pilih untuk tetap setia sebagai warga negara Indonesia ketimbang memilih tanah kelahiran mereka, Timor Leste? Di saat pemerintah absen untuk memperhatikan mereka yang luput dari perhatian, seharusnya kita-kitalah yang memberikan sedikit perhatian yang bagi kita tidak seberapa tetapi bagi mereka begitu luar biasa berarti. Hal-hal seperti itulah yang membuatku belajar lebih banyak tentang perjuangan untuk menjadi bagian dari bangsa ini. Hal-hal yang membuatku semakin menghargai artinya hidup, artinya mengasihi sesama dengan makna yang lebih dalam dan sesungguhnya. Bukan hanya sekedar kata-kata mengasihi sesama yang selalu tertulis di buku-buku pelajaran. Tetapi mengasihi dengan wujud konkrit, nyata, ada, dan berguna.

Aku terduduk sambil menyeka beberapa butiran bening yang selalu terlepas tatkala aku teringat mereka, saudara-saudaraku para pengungsi di Timor ini. Setiap hari aku bersama-sama dengan mereka, setiap hari aku merasakan denyut nadi kehidupan mereka yang tersendat-sendat. Setiap hari pula aku menghirup udara yang sama dengan mereka yaitu udara Timor. Hingga seolah-olah jiwa-ragaku ini telah menyatu dengan mereka.

Aku memiliki mimpi untuk mereka. Mimpi menjadikan mereka hidup lebih baik dari hari ini. Dan aku rasa mimpi yang sama yang diharapkan oleh teman-teman relawan semua di sini. Ada seorang kordinator relawan kami pernah berkata, “sebuah mimpi akan cepat menjadi kenyataan kalau impian itu diimpikan bersama.” Dan aku sangat setuju dengannya. Maaf Billy, aku tidak bisa merangkai mimpi bersamamu. Aku lebih memilih merangkaikan mimpi untuk mereka, saudaraku pengungsi di Timor ini.

Foto : Asri Wijayanti

Diposting oleh : Dindaru


4 Komentar

  1. dee

    it’s very touching. saya sudah 2 kali pergi ke atambua, and that’s exactly what I’ve seen. how can I join your volunteer group ?

  2. aal

    mantap …!!!!

    • Terima kasih atas kunjungannya🙂

      • antonio

        ru aku sangat………….!hhehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: